Jumat, 11 Februari 2011

Japaneses Traveling

*Japanese Traveling

“Li-chan ayo cepat kemari. Jangan di perpustakaan terus.” Teriak Ibu Lisa yang dari tadi sudah memanggil Lisa.

“Iya aku dating” jawab Lisa lemas lalu keluar dari perpustakaannya menuju asal suara Ibu Lisa “Ada apa Bu?”

“Besok, Kaachan dan Toochan akan pergi ke rumah nenekmu di Indonesia, kau bisa jaga rumah kan?” kata Mrs. Kudo dengan lembut.

“Bisa-bisa saja asal kutu kecil ini diajak” kata Lisa seraya menunjuk adiknya.

“Huh, dasaar” keluh adiknya.
“Oh iya, katanya teman-temanmu akan kemari? Jangan berbuat macam-macam ya!!” kata Mr. kudo dengan nada galak.

“Oke aku janji” kata Lisa.

“Sudah, Kaachan mau beres-beres baju dulu” kata Ibu Lisa lalu beranjak pergi dari ruang keluarga disusul oleh Pak Yusaku dan adik Lisa.

“Weeek..” kata adik Lisa sembari menjulurkan lidahnya yang langsung dibalas Lisa dengan juluran lidah juga “Weeeeek…”

-continue

“Jag rumah baik-baik ya. Kalau orang yang tak dikenal mengetuk pintu jangan dibukain. Sapu dan pel rumah ya. Kaachan Cuma pergi seminggu” kata ibu Lisa ramah sembari mencium jidat Lisa.

“Toochan pergi dulu. Ini uang jajanmu, kalau kurang pakai tabunganmu dulu, oke?” kata Mr. Kudo.

“Sampai jumpa Toochan-Kaachan” kata Lisa pada saat orang tuanya menaiki taksi.

Setelah orang tuanya telah menghilang dari pandangannya, Lisa kembali masuk ke dalam rumah. “Ayo kita mulai bersih-bersih” kata Lisa sambil sedikit mendengus. “Oke, library first.”


-continue

“Afny, ini tiket pesawatmu. Hati-hati di jalan ya, salam buat orang tua Lisa ya” kata Mrs. Gelangweilt seraya memeluk Afny.

“Ayah duit jajan..” kata Afny sambil mengulurkan tangannya.

“Ini buat di Jepang. Jangan aneh-aneh lho ya, jangan deket-deket dengan anak cowok!” kata ayah Afny smbil memberikan uang.

“Selamat tinggal kakak” kata Friska, adik Afny lalu memeluknya.

“Hahaha..oke deh bos” kata Afny lalu berjalan menuju ruang tunggu Airport.

Tak lama kemudian pesawat itu pun terbang. 15 jam perjalanan telah berlalu, Afny pun sampai di Jepang. Setelah turun dari pesawat dan mengambil barang-barang, Afny langsung keluar untuk mencari taksi.

“Oke, sekarang gimana cara ngomongnya?” kata Afny seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Can you lead me to this address” kata Afny kepada salah satu supir taksi.

“Sure, Beika” kata supir taksi itu seraya mengangkat barang-barang Afny dan mempersilahkan Afny masuk.


-continue

“Ting..Tong..” bunyi bel rumah Lisa berbunyi.


“Iya, tunggu sebentar… Siapa y… Waw Oliver!!” kata Lisa lalu mau memeluk Oliver namun tak jadi. Mereka berpandangan beberapa detik kemudian Oliver
“Hei Lisa tampaknya kau sedang bersih-bersih” kata Oliver.

“Hehe, iyaa” balas Lisa. “Apakah aku tidak dipersilahkan untuk masuk? kata Oliver dengan muka polos. “Oh ya, aku sampai lupa. Silahkan masuk” kata Lisa sedikit gagap.

“Boleh aku membantumu?” kata Oliver yang langsung menyambar kemoceng Lisa.
“Oke, silahkan saja” kata Lisa yang diikuti tawa dari kedua oaring itu.

-continue

“Ma, aku akan pergi bersama Cedric” kata Nasha sambil mangenakan sepatu ungu kesayangannya.

“Iya, tapi kamu jangan berbuat yang enggak-enggak lho ya” kata Mrs. Violetto mengingatkan. “Ini uang jajan kamu.”

Keluarga Nasha pun menuju bandara Charles de Gaulle.

Setelah sampai di bandara, Ayah dan Ibu Mama Nasha memberikan kecupan selamat tinggal. Tampak dari jauh lelaki bertubuh tinggi dan tampan sedang menghampiri Nasha. Cedric.

“Nak Cedric Om titip Nasha ya, jaga dia dengan baik” kata Ayah Nasha.

Setelah mereka berpamitan, mereka pun menuju ruang tunggu dan menaiki pesawatnya. Membutuhkan 20 jam perjalan dari Paris menuju Jepang. Mereka berdua menghabiskan waktu dengan bercerita pengalaman-pengalaman mereka.

Tak terasa 20 jam berlalu, mereka telah mendarat di bandara Internasional Tokyo. Mereka bergegas mengambil barang-barang dan langsung memesan taksi.

-continue

Afny telah sampai di rumah Lisa, lalu ia segera mencari bel dan memencetnya. “Iya sebentar..” kata suara dari dalam yang tidak asing bagi Afny. “Afnyyy…” kata Lisa sambil memeluk Afny. “I miss You..” kata Afni. “I Miss You too hunny” balas Lisa. “Silahkan masuk, maaf kalau sedikit berantakan”

-continue

“Brina..ayo cepat , nanti kamu tertinggal pesawat” kata Mrs. Genendwell.

“Iya..ini juga udah mau turun Mom” kata Brina triak-triak dari atas.

Setelah Brina turun, keluarga Genendwell mengantarkan Brina menuju Newark Airport. Tibanya disana, telah ada seorang lelaki yang menunggunya. Cormac.

“Sini Brin biar kubantu” kata Cormac lalu mengambil barang bawaan Brina. Mereka langsung menuju pesawat karna sepertinya mereka hampir saja tertinggal.

23 jam mereka habiskan dengan bercanda, bercerita, dan berakhir dengan (ke)tidur(an) -_- Bandara Internasional Tokyo (again), saat mereka terun, mereka berdebat antara akan naik taksi atau menjadi Hitchhiking. Dan tentu saja semua itu berakhir dengan mereka naik taksi.

-continue

Setelah Lisa mandi dan membersihkan dirinya ia mengecek catatannya. “Brina, Cormac, Nasha, Cedric, Andy, Harry, Edward, Hermione, and Ron” kata Lisa merasa banyak temannya yang belum dating.

“Ting..Tong..” pasti salah satu dari mereka, piker Lisa. “Nasha..” kata Lisa yang langsung dipeluk oleh Nasha. “Heii Cedric” sapa Lisa sambil tersenyum.

“Masuklah, kalian dating malam sekali, kita baru saja selesai makan malam.” kata Lisa sambil menutup pintu. “Kamar Nasha di atas sebelah kanan, lalu kau Cedric, di atas sebelah kiri” kata Lisa yang menunjuk ruang atas.

-continue

“Andrea..cepat, Ed sudah menunggumu” kata Mrs. Juliana.

Tak lama kemudian Andy pun turun. “Let’s go Ed” kata Andy lalu berpamitan dengan kedua orang tuanya dan tidak lupa meminta uang jajan (-_-). Sesampainya di bandara mereka langsung menuju ruang tunggu. Beberapa saat kemudian mereka naik pesawat.

30 jam perjalan, dan Andy memutuskan untuk tidur. Sedangkan Ed lebih memilih mendengarkan music dari iPodnya.

For the last, bandara Internasional Tokyo. Andy dan Ed memesan taksi dan wuuuss.. menuju rumah Lisa.

-continue

22.00 p.m (Japan)
“Hoaaam..” Afny menggeliatkan tubuhnya. Nasha yang sudah tertidur di bahu Cedric dan Oliver tertidur dengan merebahkan kepalanya di meja. Sedangkan Lisa masih mondar-mandir menunggu kedatangan teman-temannya.

“Guys, aku mau membawa Nasha ke kamarnya ya. Sekalian aku juga mau tidur” kata Cedria yang sudah menggendong Nasha.

“Aku ikut” kata Afny yang merasa kamarnya juga berada di atas. “Baiklah, aku akan menunggu disini, kalian tidur saja” kata Lisa yang sudah terlihat mulai mengantuk. Afny, Cedric beserta Nasha pun menuju kamarnya.

“Lis, jangan terlalu dipaksakan, kalau kamu ngantuk, kamu tidur aja. Oke” kata Oliver seraya mengusap rambut Lisa. “Iya, sebentar lagi Ol” kata Lisa sambil tersenyum.

“Oke, kalau begitu aku tidur dulu ya” kata Oliver, lalu menuju kamarnya.

Tak berapa lama kemudian bel rumah Lisa berbunyi. “Tin..Tong..” dengan cepat ia menuju pintu. ‘Pasti Brina dan Cormac’ dan benar saja mereka yang datang. “Haii Mac” kata Lisa sambil melihat Brina yang di gendong Cormac. “Kamar Brina diatas sebelah kanan dank au di sebelah kiri” kata Lisa sambil menutup pintu.

Lisa memutuskan untuk tidur saja. Setelah ia mengunci semua pintu dan jendela ia bergegas menuju kamarnya. Lampu dimatikan dan. Gelap.

Kamis, 10 Februari 2011

When we (must) Surrender


"aku bertahan, meski kau teap pada pendirianmu..
sekeras kau coba tuk mematikan hatiku..
yang aku tau kau hanya untukku.."

Lagu itu, entah berapa kali ia memutarnya. Ia suka lagu itu, manggambarkan dirinya saat ini yang sedang galau.

"kenapa, kenapa kamu selalu gak perna percaya sam aku, Vin?"

Pertanyaan yang tak akan ada orang yang bisa menjawabnya.

*flash back*

Ckiiiiiit...
Suara khas rem mobil itu terdengar dalam keheningan malam kota. Yaris hitam itu berhenti tepat di sebelah trotoar jalan.

"SUKA KAMU HA SAMA ANAK ITU? IYA?"

"JAWAB WOY, JANGAN CUMA DIEM AJA"

"e..eng..enggak Vin. dia itu cuma temen aku"

"BOHONG!!"

"beneran Vin, aku gak bohong..
tadi aku nunggu kamu, sendirian, disini. kamu gak datang-datang, trus ada Rio sama Gabriel yang datang trus  nyamperin aku. kita cuma ngobrol aja, gak lebih. lagian tadi kan juga ada gabriel disana"

"aaaahh..." tangan alvin hampir melayang ke wajah cantik Ify. Ify hanya memejamkan mata takut akan apa yang terjadi berikutnya. Alvin mengurungkan niatnya.
"terserahlah kamu mau ngomong apa. bela-belain aja tuh temen kamu si Rio itu, suka kan kamu sama dia. aku nggak perduli. dasar cewek gak punya harga diri. udah tau udah punya pacar, tapi masih aja deket-deket sama cowok laen. ganjen, centil kamu itu"

Belum sempat Ify membalas perkataan Alvin tadi, Alvin langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang diluar batas.

*now*

Belum pernah Alvin sekasar itu pada Ify. ia hanya bisa menghela nafas.

Ganjen? kenapa dia bilang aku ganjen? aku, aku nggak ganjen. Selingkuh? aku setia, sangat setia malah. tapi kenapa kamu gak mau percaya, nggak pernah percay mungkin lebih tepatnya.
Salah kah aku cuma duduk bertiga dengan teman sekelasku yang hampir setiap hari bertemu? cuma duduk sambil berbincang ringan. Bukan selingkuh. bukan.

Boneka babi itu sudah tidak berbentuk lagi. Banyak air mata di puncak kepala boneka itu. Ify. Nama si empu boneka itu. Gadis itu. Ia menangis dalam diam. Dua anak sungai kecil mengalir deras di kedua pipinya. Mata gadis itu sudah menyerupai bola pimpong sekarang. Entah berapa lama ia menangis.
Perlahan ia mengusap kedua pipinya. Ia beranjak dari tempat tidurnya menuju cermin di depan tempat tidurnya. beberapa saat ia memandangi wajahnya. Tubuhnya. Perlahan anak sungai itu kembali mengaliri kedua pipinya. Tetap dalam diam ia menatap cermin. Memperhatikan wajah dan tubuhnya.

Ia mungkin telah terbiasa dengan kejadian seperti itu. Tapi ia lelah dengan semua ini. Lelah karna Alvin. Pacarnya. Yang selalu mempunyai sifat cemburu yang sangat besar padanya. Ia ingin seperti Shila. Temannya. Yang selalu diberikan kepercayaan oleh Cakka. Pacar Shila. Tapi ya sudahlah, pikirnya. Toh semua itu hanyalah khayalan belaka. Ia tak akan bisa mendapatkannya. Karna walaupun ia berkata demikian kepada Alvin, toh si empunya itu tak akan mau. Ia akan berkata "aku itu Alvin, jangan samakan aku dengan Cakka pacar Shila itu. Karna aku bukan dia. Kalo kamu mau punya pacar seperti dia, kamu pacaran aja sama Cakka."

Entahlah. Mungkin lebih baik aku tidur saja. Pikir Ify kemudian.

************

Pagi itu ia berjalan gontai menuju kelasnya yang berada di ujung koridor. Tadi pagi ia bersusah payah agar matanya tidak terlihat sembab karna habis menangis. Dan walhasil ia tidak berhasil. Untung ia memakai kacamata, jadi sedikit labih terbantu.

Pagi itu kelas masih kosong, hanya ada beberapa glintir anak saja. Ia memutuskan untuk berangkat lebih pagi karena ia mau ke perpustakaan. Mencari sesuatu yang bisa menenangkan hatinya saat ini. Dan yap, buku itu ada. novel "Seperuh Bintang" itu ada di ujung lorong rak buku peprpus itu. Dengan sigap ia melangkah dan mengambil novel itu. Duduk di pojokan adalah tempat yang paling strategis di peprpus ini, menurut Ify.

Tak terasa 15 menit telah berjalan. Dan

"teeeeet...teeeeeeeeet....teeeeeeeeeet...." bel masuk pun berbunyi.

Ify pun terlonjak kaget karna bel itu berbunyi. Saking seriusnya ia mambaca novel favoritnya itu. Ia berjalan menuju meja penjaga dan mangisi daftar hadur dan buku apa yang akan ia pinjam. Setelah kaluar peprpus dengan sedikit tersaruk-saruk ia berjalan menuju kelasnya.

Fuallaa, saat ia memandang isi kelasnya matanya langsung tepat mengarah ke sepasang bola mata lelaki itu. Ya, Alvin tentunya. Ia kembali menundukkan wajahnya. Ia masih ingat betul tragedi tadi malam. Dan setelah pulang, Ify sama sekali tidak manghiraukan Alvin. Berpuluh-puluh sms dan telfon tidak ia balas atau ia angkat.

Seakan tidak perduli dengan itu semua, Ify lalu melanjutkan jalannya menuju singgahsananya. Tak bisa, ia tak bias menggerakkan kakinya sama sekali. Keseimbangannya seperti hilang dari tubuhnya. Rasanya ingin jatuh saja. ia diam di tempat, lalu mencoba melangkah, bisa. tapi sedikit sakit dan berat.

Baru ia duduk langsung "yaa ampuun Ify. kamu kemana aja sih sayang? aku dari tadi nyariin kamu. aku mau.." Shila sobat Ify itu tidak meneruskan perkataannya "eh kamu nangis ya Fy?kenapa lagi kamu?" Shila melupakan kata-katanya tadi.

Ify yang duduk menyamping itu sedikit melirikkan matanya kebelakang bangkunya. mengira-ngira apa tanggapan Alvin setelah mendengar ucapan Shila tadi. nothing. Alvin hanya memandangnya dengan tatapan dingin. mengerikan sekali. "enggak kok, ini karna tadi malam aku begadang" jawab Ify seadanya.

beruntung pak Joe sudah datang, jadi Shila tidak melanjutkan sesi interogasinya.

jam pelajaran terakhir. sejarah. pelajaran yang paling membosankan dan kenapa harus diletakkan pada jam terakhir. membuat ngantuk saja. itu adalah pernyataan anak XI-1. kelas Ify. pelajaran hari itu dilewati Ify dengan diam saja. ia menganggap pelajaran hari ini hanyalah angin lalu saja. pelajaran ini terasa berlangsung sangat lama sekali. Ify hanya ingin pulang, agar tidak bertemu Alvin lagi.

************

"teeeeeet...teeeeeeeet....teeeeeeeet.....teeeeeeeeeet....."

YES! batin semua anak dalam kelas itu. Ify dengan secepat mungkin membalikkan badannya, memasukkan buku-bukunya kedalam tas. ia hanya menunduk. tak berani melihat Alvin.

"aku mau bicara. aku tunggu kamu di parkiran"

cuma itu saja yang keluar dari mulut Alvin. lalu ia berjalan dengan cepat meninggalkan kelas.

"Fy, aku duluan yaa, mau ada les. gurunya jahat banget sih. jadi gak bole telat" ucap Shila lalu memeluk sahabatnya dan berlalu.

Ify mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. kosong. cepat sekali, batin Ify. ia tidak langsung keluar. Ify duduk smbil menghela nafas dan mengira-ngira apa yang akan dibicarakan oleh Alvin nanti. apa mereka akan putus? apa Alvin akan berubah untuk dirinya?

"haaah..aku capek sekali" Ify sangat lelah dengan keadaan seperti ini.

@parkiran

cowok tampan itu telah berada disana menyenderkan diri ke mobil yaris hitamnya.dengan pandangan dingin dan angkuh ia menatap cewek mungil cantik nan imut itu menuju dirinya dengan menunduk.

"mau ngomong apa?" tanya Ify to the point.

"masuk, kita makan siang dulu. aku lapar, kamu juga pasti belom makan kan?"

"nggak usah, kalau mau ngomong disini aja. aku ada acara."

"aku nanti akan mengantarmu pulang."

tanpa menunggu jawaban dari Ify, Alvin lamhsung masuk mobil. Ify hanya menghela nafas panjang dan masuk ke kursi pengemudi.
dengan cepat yaris hitam itu meninggalkan plataran parkir itu. dengan lihai Alvin menggerakkan kemudinya untuk menembus kemacetan di sore hari itu. diam. yang terdengar hanyalah deru knalpot dan klakson kendaraan dari luar sana.

"kita mau kemana?" Ify akhirnya membuka pembicaraan.

"aku tadi udah bilang kan kalo kita mau makan" dingin.

"ooh..." Ify hanya ber-o ria.

suasana dalam mobil itu kembali sepi. layaknya kuburan di malam hari.


@Sendok Garpu Resto

resto favorit Ify dan Alvin. tempat jadian mereka. mereka duduk di dekat beranda atas. resto ini terletak di atas bukit, jauh dari keramaian. hawanya pun sejuk. walau resto ini berada di tempat yang sedikit menyempil, tapi banyak juga pengunjungnya.

"nasi goreng 2 sama orange juicenya juga 2 ya. nasi goreng yang satu tanpa sayur dan bawang ya mbak" menu favorit ,mereka. dan Alvin tau betul apa yang diinginkan Ify seperti pesanan tadi.

Diam. itulah suasana diantara mereka berdua. sampai makanan itu datang pun mereka hanya diam saja. merasa  tidak tahan dengan keadaan ini Ify pun membuka suara “kamu tadi mau ngomong apa Vin?”

pertanyaan itu membuat Alvin mendongakkan kepalanya. “kamu masih marah padaku?” tanya Alvin kemudian.

“ee…enggak kok Vin” jawab Ify sekenanya.

“well, aku mau mulai sekarang kamu jangan pernah dekat-dekat dengan temanmu cowok” kata Alvin sedikit tegas “siapa pun itu dan karna apa pun itu. hanya aku yang boleh berada di sampingmu” lanjutnya.

“…”

“mengerti  Ify?” tambahnya karna merasa tidak diperhatikan.

“tapi Vin..”

“tanpa tapi, tanpa penolakan. hanya kata ‘iya’ saja Fy” tandas Alvin sebelum Ify meneruskan kata-katanya. yang dijawab anggukan lemah oleh Ify. mereka pun melanjukat makan dengan diam(lagi).

entah mengapa Ify begitu menuruti semua perkataan dan permintaan Alvin. mungkin karna cinta, tapi apa harus seperti itu? tidak pastinya. entahlah, terkadang cinta itu membuat kita tak sadarkan diri, menjauh dari kehidupan nyata menuju fana. hingga terkadang kita tidak sadar dengan apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan.

************

‘kenapa aku akhir-akhir ini sering sekali tidak bisa berjalan, seperti lumpuh’ fikir Ify berkali-kali.

Ya, memang akhir-akhir ini Ify sering kali mendadak tak bisa berjalan secara tiba-tiba, entahlah kenapa itu.

Hari ini Ify dan mamanya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk mengecek keadaan Ify yang sebenarnya. Setelah melalui bebrapa proses cek sana dan cek sini, hasil dari rongsen Ify telah keluar.

“drrrt..drrrt…drrrt…” getar handphone mama Ify mulai terasa di dalam saku tasnya. “ya halo?” kata mama Ify yang kemudian menjauh dari Ify.

Mama Ify yang sepertinya telah selesai menerima telfon itu langsung menuju anak semata wayangnya itu. “Ify sayang, mama ada urusan mendadak yang harus segera diselesaikan. kamu bisa kan mengambil hasil rongsennya sendiri. Nanti kamu pulang naik taksi ya sayang” kata mama Ify seraya mengecup kening anaknya lalu berlalu.

************

Gadis itu hanya duduk terdiam sambil memeluk kakinya. Dalam keheningan itu perlahan-lahan mulai terdengar sesunggukan. Menangis. Namun kali ini tidak dalam diam lagi.

Gadis itu berdiri dan melangkah menuju meja belajar yang ada di sudut ruangan itu. mencari-cari sesuatu dengan tidak sabaran. Ketemu. Amplop putih beserta tanda sebuah rumah sakit di ujung amplop itu. ia membukanya, mengambil selembar surat di dalamnya. Membacanya. Dan kembali sesunggukan. Entah berapa banyak tetes air yang mengaliri pipinya.

“Ify sayang..” suara wanita yang begitu ia kenal  itu mengagetkannya. Sontak dengan kasar ia menyeka anak sungai itu.

“iya ma?” katanya sambil melangkahkan kakinya membuka pintu.

“ada apa ma?”
“Ify..kamu habis nangis ya sayang?” tanya wanita itu.

“ee..enggak kok ma. Beneran deh” katanya mencoba meyakinkan wanita itu. mamanya.

“yasudahlah. Oh ya Fy, mana hasil rongsen dari dokter tadi?”

“ee…ee…itu ma..anu…hasilnya jatuh ke selokan waktu aku tadi bawa. Maaf ya ma” ujarnya sambil memelas “Ify nggak papa kok ma, Cuma kecapean aja. Butuh istirahat” katanya berbohong.

“bener Ify?” tanya mamanya penuh selidik.

“beneran ma, masa iya Ify mau bohong sama mama” katanya. bohong lagi.

“eeemm, yauda kamu tidur aja ya sayang. Mama juga udah ngantuk” kata mamanya lalu mengecup kening putrinya dan berlalu.

Setelah memastikan bahwa mamanya telah pergi dan masuk kamar, ia kembali duduk dan memeluk kakinya. Menangis lagi. Dan lagi.

“kenapa? Kenapa harus gitu..” katanya sambil sesunggukan “kenapa harus terjadi padaku” katanya lagi.

Sepanjang malam ia hanya menangis dan terus-menerus mengucapkan kata-kata itu. ia sepertinya menyesal. Menyesal karna tidak bisa menjadi pacar yang baik buat pacarnya. Alvin. Ia juga belum bisa menjadi anak yang baik untuk mama dan papanya. ia bertekat akan merubah itu semua sebelum ia tak akan pernah bisa merubahnya.

Ya, waktu yang dimiliki Ify hanya satu bulan. Sebentar. Sangat sebentar malah. Gagal ginjal. stadium empat. Penyakit itulah yang mulai menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit.

************

Hari-hari berikutnya dilalui Ify dengan senang dan gembira. Penyakitnya sekarang sudah pernah kambuh lagi. Bahkan ia juga sering lupa kalau memiliki penyakit yang berbahaya itu. sekarang ia tidak pernah lagi bertengkar lagi dengan Alvin. Selalu rukun-rukun saja. sekarang ia juga semakin pintar, membuat mamanya bangga.

Hari ini ia dan Alvin akan pergi ke resto langgananya. Tapi Ify bersikeras tidak mau dijemput oleh Alvin karna ia mau menyiapkan kejutan untuk pacarnya itu.

Jam 5 sore mereka janjian di tempat itu. namun Alvin sudah datang setengah jam lebih awal. Ia tidak ingin Ify menunggunya. Biarlah ia saja yang menunggunya.

“mana sih si Ify ini kok belum datang juga” tanyanya sambil melihat jam tangan yang sudah mengarah pada angka 6.

Karna tak sabar ia mengambil handphone di sakunya lalu memencet-mencet beberapa nomor yang sepertinya sudah dihafalnya.

“tuut…tuut…”

“halo?” suara lembut nan jauh disana.

“kamu kmana aja sih Fy kok belom dateng juga?” kata Alvin sedikit emosi.

“maaf banget ya Vin, jalanannya macet banget” kata Ify merasa bersalah.

“kamu sih pake acara naek taksi segala,  enakan tadi juga aku yang jemput kamu” kata Alvin yang mulai mereda.

“aku kan udah bilang mau ngasih kamu sedikit kejutan” kata Ify polos.

“hhmmmm…yaudalah, aku tunggu. Kamu ati-ati ya sayang. bye”

“iyaa, bye”

Klik. telfon pun mati.

************
Sudah 3 gelas orange juice yang di habiskan Alvin, membuat ia kenyang sendiri. Namun sampai saat ini Ify belum juga kunjung datang. Berkali-kali ia menelfonnya tapi tidak satu kali pun Ify mengangkatnya. Sms juga tidak dibalasnya. Alvin melirik jam tangannya lagi, pukul 9 malam. Dan 1 jam lagi resto ini akan tutup.

Dan benar saja 1 jam itu entah mengapa terasa begitu cepat untuk Alvin. Akhirnya ia diusir secara halus oleh pelayan resto itu karna resto sudah tutup. Dengan emosi yang memuncak Alvin jalan menuju mobilnya dengan muring-muring dan mengumpat sekenanya.

************

Gadis mungil imut itu hanya bisa terbaring tak berdaya di tempat tidur dengan selang oksigen yang melingkar di hidungnya serta kepala dan tangan yang terbalut perban. Ify. tadi malam, mengalami kecelakaan tepat saat setelah ia menutup telfon dari Alvin.

*flash back

Saat melewati pertigaan jalan, ia ditabrak oleh sebuah truk besar dari samping. Dan membuat taksi yang ia tumpangi itu terseret beberapa meter. Dan berhenti ketika sebuah pohon besar menahannya, yang membuat Ify terjepit dalam posisi seperti itu.

Dengan susah payah ia membuka matanya, melihat benda yang ada di sampingnya apakah masih baik-baik saja. benda itu masih terbungkus dengan rapi tanpa cacat.

“to..long..tolong…tolooong….” ucapnya dengan suara lirih.

Beberapa orang  mulai berdatangan untuk menolongnya.

“mbak nggak papa kan?” tanya satu orang di luar sana.

Ify hanya mengangguk lemah, ia tau pasti orang yang ada diluar sana tidak dapat melihat anggukannya itu. tiba-tiba semunya menjadi gelap.

*now

Perlahan kedua mata gadis itu terbuka. Ini bukan kamarnya, juga bukan salah satu ruangan dirumanya. Rumah sakit. Ia mengerti ini rumah sakit dari baunya, sangat khas. Mama. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Tidak ada siapa-siapa.

Ceklek. Suara pintu terbuka. Seorang pemuda putih-tinggi-tampan itu melangkah mendekatinya. Alvin. Dia tersenyum yang di jawab Ify juga dengan senyuman, lemah.
“aku kemarin kan udah bilang kamu aku jemput aja, kamu bandel sih, jadinya kayak gini kan” kata Alvin lembut. Sangat lembut. Seolah-plah ia lupa dengan semua emosinya kemarin.

‘maaf’ kata Ify tanpa suara, tapi Alvin bisa mengetahuinya dengan jelas. Dengan lembut ia mengusap ujung kepala gadis yang sangat di cintainya itu.

************

Mulai saat itu tidak ada pertengkaran lagi. Sedikit pun. Alvin begitu sabar bila berada disisi Ify. setiap hari ia dengan rajin mengunjungi kekasihnya itu ke rumah sakit. Seperti halnya hari, sepulang sekolah.

Dilihatnya gadis itu duduk di kursi roda memandang jauh kearah luar. Melamun. Entah apa yang ia lamunkan.

“Fy..” kata Alvin, menyadarkan Ify dari lamunannya.

“eem..Alvin. udah lama disininya?” kata Ify sedikit kaget.

“enggak kok” kata Alvin sambil menggelengkan kepalanya.

“Fy, aku boleh mengajakmu kea tap gedung rumah sakit ini?” tanyanya.

“eem..boleh-boleh Vin. Aku juga jenuh disini terus”

“I have a some surprise for you, so I wanna close your eyes with this” kata Alvin yang sudah siap dengan sapu tangannya.

Setelah menutup mata Ify dengan sapu tangan, Alvin mendorong kursi roda dengan hati-hati.

“kamu mau kasih aku apa sih Vin?”

“liat aja nanti” kata Alvin lalu membantu Ify berdiri karna mereka harus menaiki tangga untuk sampai di pintu luar atap gedung.

“aku bakalan buka sapu tangan ini, tapi kamu jangan buka mata dulu ya” kata Alvin lalu membuka sapu tangan yang menutupi mata Ify.

“oke, buka mata kamu setelah hitungan ketiga. Satu..dua..tiga..open your eyes” katanya.

Dengan warna jingga tua kemerah-merahan beserta warna kuning yang mengelilingi setengah lingkaran itu membut sepasang mata tertegun. Sang fajar yang mulai kembali ke peraduannya, melambaikan sinar-sinarnya kepada seluruh umat membuat sepasang mata itu berdecak kagum.

“waaaw…” kata si empu sepasang mata itu sambil menoleh kekekasihnya.

Alvin hanya tersenyum. Senyuman paling manis menurut Ify.

“Fy, aku akan selalu menjadi matahari buat kamu dan aku akan menjadi bintang di malam hari buat kamu. Karna kamu adalahbumiku yang akan selalu aku terangi dengan sinar mentariku dan kamu adalah bulan yang akan terus aku jaga disampingku. selalu itu Fy" kata Alvin sambil memeluk gadis yang sedang menahan tangisnya.


Dalam hati Ify berkata "Tuhan, izinkannlah aku untuk hidup lebih lama lagi, hanya untuk membahagiakan Alvin. Aku mohon Tuhan, sekali ini saja. Aku janji tidak akan menyia-nyiakannya."

************

Pagi itu, seorang pemuda tampan berjalan gontai, tersaruk-saruk seperti tak memiliki tenaga. Pagi itu kelas sudah ramai, hampir penuh. Ia duduk dan menatap miris kursi yang berada di depannya itu.


Kursi itu, kursi Ify. Kursi yang selamanya akan kosong. Tak berpenghuni, karena sang penghuni telah pergi, pergi untuk selama-lamanya, kembali kepada-Nya.


*flash back, 7hari yang lalu*


Setelah mengucapkan do'a itu, Ify jatuh, pingsan. Dengan panik Alvin menggendongnya menuruni tangga dan berlari menuju kamar Ify sambil berteriak-teriak memanggil dokter dan suster.


"please dok, selamatkan Ify pacar saya, saya mohon dok"


"baik mas, mas tunggu di luar saja ya, biar kami semua yang mengurusnya"


Dokter pun menghilang di balik pintu dimana sekarang Ify sedang memperjuangkan nasipnya. Alvin hanya terduduk lemah.


Tak seberapa lama dokter itu keluar, dengan secepat kilat Alvin berdiri dan melangkah.


"bagaimana dok dengan Ify?"

"..."

"gimana dok? jangan diem aja, jawab saya" kata pemuda itu sedikit berteriak.


"maaf mas, kami sudah berusaha semampu kita, tapi memang kondisi mbak Ify tidak memungkinkan. apalagi ia mengidap gagal ginjal stadium akhir..."


Perkataan dokter itu belum selesia, namun Alvin sudah berlalu memasuki kamar pacarnya itu.


*now*


The End..


*fiuuh, akhirnya selesai juga :D hope like it :)

Rabu, 09 Februari 2011

My Funfiction - Yule Ball

“Yule Ball..adalah tempat berkumpul dan bersuka ria, dimalam sebelum tahun baru...” kata Mc. Gonnagal di samping Filchdan kucingnya. “Dan yang terpenting dari Yule Ball adalah.. a Dance”

Sebegian besar anak-anak mengeluh.

“What? Dance?” kata Fallen shock.

“Bahkan dalam mimpi terburukku sekalipun aku tidak pernah bermimpi menari” kata Animato sama shocknya dengan Fallen.

“Berdansa teman-teman, aku akan berdansa dengan pengeranku” kata Titto berbunga-bunga. Alegre berdada-dada ria dengan Cormac yang ada di barisan cowok.

“Oh teman-teman, kita yang paling malang” kata Preciux sambil memeluk Fallen dan Animato.

Kita adalah ijo limut teman” kata Animato.

“ijo lumut? Apa tuh?” kata Fallen tak mengerti.

“Ikatan Jomblo Lucu nan Imut” kata Animato dan Preciux bebarengan. Mereka bertiga pun tertawa.

Pelajaran Prof. McGonnagal berakhir dengan tawa karena Ron berdansa dengannya. Hahahaha… itu sangat lucu sekali.


“A dance? Mungkin ini adalah hal yang ter-nightmare yang pernah ada dalam hidupku” kata Animato di koridor sekolah.

“Ayolah teman-teman, tidak sebruk yang kalian kira” kata Alegre menenangkan para sahabatnya.

“Tapi sayangnya kita tidak bias berdansa dan tidak memiliki pasangan Alegre” jawab Animato, Fallen, dan Pecriux dengan kompak.

Akhirnya mereka semua memilih untuk diam, daripada harus membahas tentang Yul..yule..Yule Ball. Tiba-tiba ada seseorang dari belakang mereka yang memanggil.

“Fallen..” kata suara asing itu. Dan yang mempunyai nama itu pun membalikkan badan. “Ya?” kata Fallen dari kejauhan yang sudah pasti tidak didengar oleh Goyle. Ya, lelaki itu.

“Bisa kita berbicara sebentar?” tanya Goyle yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Fallen. “What?” Goyle masih diam sambil memandangi teman-teman yang ada di belakang Fallen.

“Eeemm..well, sebaiknya kita pergi guys” kata Preciux yang merasa bahwa Goyle tidak mau diganggu “Kita tunggu di ruang rekreasi Fall” kata Preciux lagi sambil melambaikan tangan.

“Oke, let’s talk” kata Fallen yang merasa tidak sabar.

“Eeemm...eee…kau..ma…mau…aaahh” kata Goyle yang mulai terlihat kebingungan dan gelisah.

“Come on Goyle” kata Fallen yang sepertinya agak malas.

“…”

“…”

“…”

“Oke Goyle, jika kau tidak mau bicara sekarang, aku akan pergi. Karna teman- temanku sedang menungguku” kata Fallen seraya membalikkan badan dan berlalu.

Beberapa langkah, cukup jauh. Goyle berteriak “Maukah kau menjadi pasanganku di Yule Ball nanti?” Goyle menghela nafasnya. Merasa ia yang ditriaki, Fallen pun membalikkan badannya.

“What? Me?” kata Fallen agak bingung. “Apakah ini hanya jabakan saja?” katanya penuh selidik.

“No, aku serius. Karna...kupikir…kaulah…wanita…yang…paling…ee…manis..” katanya, pipinya yang putih itu kini bersemu merah.

“Well, thank you..” kata Fallen sambil berjalan kearahnya “sejauh ini belum ada yang mangajakku..dan..” kata Fallen menggantung “oke, aku akan kesana bersamamu” jata Fallen akhirnya.

“Really?” kata Goyle girang “Yeaaahhh…” katanya lagi. Dan kemudian dia lari entah kemana.

“Aneh..” gumam Fallen, lalu ia berjalan menuju asramanya dehgan bersenandung kecil. Ia tidak sadar ada orang yang memperhatikannya dari kejauhan dengan tatapan jengkel dan kesal. Ron.